click

Date: 12/26/2008

dosanya mampu mencemari samudra

Dosanya Mampu Mencemari Samudra Oleh Administrator Kamis, 25 September 2008 22:46 Sebagaimana Imam al Ghazali, Imam an Nawawi juga menjelaskan bahwa ghibah (menggunjing) tidak hanya memperbincangkan keburukan perilaku orang lain. Namun, ghibah mencakup semua pergunjingan tentang berbagai hal tentang orang lain, yang dia tidak suka jika mengetahui atau mendengarnya. Baik soal kondisi fisiknya, jiwanya, perilakunya, harta dan keluarganya bahkan soal pembantunya sekalipun. Media ghibah juga bukan hanya lisan tapi juga anggota badan seperti isyarat mata, tangan, gaya atau tulisan, juga semua sarana yang bisa menyampaikan maksudnya. Bahkan dengan cara seperti ini jauh lebih buruk karena ilustrasi keburukan yang diberikan bisa lebih jelas. Motiv Lain Menggunjing bukan sekadar hiasan bibir, pembicaraan tanpa makna untuk peramai suasana. Dalam beberapa hal, ada motif psikologis lain yang mendasari 'ritual makan bangkai' ini. Misalnya, Pertama ingin menjatuhkan martabat orang lain dan mengangakat derajat diri sendiri. Pesan tersirat ini bisa dengan jelas kita lihat dari caranya mendeskripsikan keburukan objek ghibahnya. Ada yang secara vulgar dan kasar, dan ada pula yang halus tapi sarat dengan kesan penghinaan dan rasa bahasa yang jauh lebih menyakitkan. Biasanya pembicaraan diiringi dengan ucapan-ucapan bernada ujub (narsis) berupa perbandingan dengan pribadinya. Misalnya, setelah menyebutkan keburukan lawannya, ia berkata, " yah, alhamdulilah-lah, saya tidak seperti itu" atau ungkapan lainnya. Intinya, ia ingin mendoktrin lawan bicaranya bahwa "Saya lebih baik dari dia". Kedua, iri dan dengki. Sebenarnya, perasaan ini bisa memantik aksi yang jauh lebih dahsyat dari sekadar ghibah. Iri dan dengki bisa membuat seseorang gelap mata hingga tega melakukan apapun untuk menjatuhkan rivalnya." Wa min syarri hasidin idza hasad", ayat terakhir surat al Falaq ini adalah ayat khusus tentang doa perlindungan dari orang yang tengah dengki. Ghibah hanyalah salah satu aksi yang paling ringan. Dengan ghibah, ia ingin agar lawan bicara mengetahui dan merasakan kebencian yang sama pada objek ghibahnya. Ketiga, menumpahkan amarah. Barangkali kita pernah menjadi tempat curhat yang isinya adalah 'muntahan lava' kemarahan. Kejengkelan-kejengkelan terpendam karena disakiti orang lain ditumpahkan pada kita. Tujuannya bukan mencari solusi, hanya untuk menguapkan emosi yang memanggang lubuk hati. Dan ghibah pun tak dapat dihindari. Keempat, ghibah untuk lucu-lucuan. Ia akan mengumpulkan bahan-bahan kejelakan orang lain tentang ketidksempurnaan fisik atau kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian dia kemas dalam guyonan-guyonan dalam pembicaraan atau menirukan kelakuan aneh objek ghibahnya. Kelima, motif ingin menyesuaikan diri. Sejatinya dia bukan pencetus obrolan ghibah, tapi hanya ingin menyesuaikan saja agar dia bisa diterima. Meski akibatnya tak jauh beda,ia ikut membicarakan aib saudaranya Berat rasanya saat teman bicara mulai 'mengiris daging saudara sendiri' untuk langsung menghentikannya. Alih-alih menasehati, kebanyakan justru memilih menimpali. Alasannya hanya tidak enak hati. Sebab, jika dihentikan atau diberi taushiyah dan pengertian, suasana akan berubah menjadi kaku dan penuh rasa sungkan. Ingat Selalu Ancaman-Nya Motivasi ampuh untuk beramal baik adalah janji pahala sedang untuk menghentikan dosa adalah selalu ingat ancaman musiah di dunia dan siksa. Harus kita tanamkan dengan kuat dalam hati, akibat buruk dari perbatan ghibah ini. Kita bisa membaca dan mengingat beberapa nash diantaranya, Allah Ta'ala berfirman, "..dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain.Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujurat:12) Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah kejelekan bagi seseorang bila ia merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya." (HR.Muslim) Rasulullah bersabda, "Tatkala aku di-Mi'raj-kan (dibawa ke langit oleh Malaikat Jibril dalam peristiwa Isra Mi'raj) aku melewati suatu kaum (di neraka) yang mereka memiliki kuku-kuku dari tembaga. Dengan kuku-kuku tersebut mereka mencakari wajah dan dada mereka. Maka aku bertanya kepada Jibril : "Siapa mereka itu, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang (ketika di dunia) memakan daging manusia (berbuat ghibah) dan melanggar kehormatan manusia." (HR. Abu Daud. Dishahihkan Asy Syaikh Albani). Dari Aisyah berkata, " Aku berkata pada Nabi SAW, " Cukuplah bagimu keadaan Shaifyah yang begini dan begini amaksudnya posturnya pendek-, Lalu Nabi bersabda, " Telah kau ucapkan kalimat yang andaikan dicampur dengan air laut, pasti akan mencemarinya. (HR. Abu Daud) Tentang hadits diatas Imam an Nawawi mengatakan, " Di antara peringatan yang paling hebat tentang akibat ghibbah adalah hadits ini dan aku tidak pernah menemukan hadits yang lebih keras peringatannya tentang masalah ini selain hadits ini. Ali Bin Husein berkata, " Jauhilah ghibah karena ghibah adalah santapan manusia anjing." Ini tindakan preventifnya. Untuk kurasinya yaitu dengan bertaubat. Cara bertaubat dari ghibah, bisa dengan dua cara. Pertama meminta maaf pada yang dighibah. Akan tetapi cara ini rawan menimbulkan sakit hati dan efek samping lain. Ibnu Taimiyah menganjurkan cara kedua, yaitu dengan menyebutkan kebaikan orang yang dighibah di majelis-majelis dimana dulu dia mengghibahnya. Kemudian dilanjutkan dengan taubat yang benar. Memohon ampunan, menyesal dan bertekad tak melakukan lagi dan mengakhiri perbuatan buruknya. Wallahua'lam. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan buruk ini. Amin. (fikar)


Blogs
Main