Date: 12/26/2008
hutang barat terhadap islam
Hutang Barat terhadap Islam Oleh Administrator Kamis, 25 September 2008 22:36 "Hutang Barat terhadap Islama (The West Debt to Islam). Itulah judul sebuah bab dari sebuah buku yang ditulis oleh Tim Wallace-Murphy. Buku itu sendiri berjudul aWhat Islam Did For Us: Understanding Islamas Contribution to Western Civilizationa ( London : Watkins Publishing, 2006). Di tengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam melalui berbagai media di Barat, buku ini sangat patut dibaca. Selain kaya dengan data-data sejarah, buku ini memberikan arus lain dalam menilai Islam dari kacamata Barat. Berbeda dengan manusia-manusia Barat yang fobia dan antipati terhadap Islam a seperti sutradara film "Fitna", Geert Wilders a penulis buku ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang sejarah Islam. Bahkan, dia tidak segan-segan mengajak Barat untuk mengakui besarnya hutang mereka terhadap Islam. Bahkan, katanya, hutang Barat terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya. aEven the brief study of history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an immense and immeasurable debt to the world of Islam,a katanya. Karena itulah, tulis Wallace-Murphy, aKita di Barat menanggung hutang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan.a (We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid). Pengakuan Wallace-Murphy sebagai bagian dari komunitas Barat semacam itu, sangatlah penting, baik bagi Barat maupun bagi Islam. Di mana letak hutang budi Barat terhadap Islam? Buku ini banyak memaparkan data tentang bagaimana transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di Barat sebagai Zaman Pertengahan (The Middle Ages). Ketika itulah, tulis Wallace-Murphy, Andalusia yang dipimpin kaum Muslim menjadi pusat kebudayaan terbesar, bukan hanya di daratan Eropa tetapi juga di seluruh kawasan Laut Tengah. Pada zaman itu, situasi kehidupan dunia Islam dan dunia Barat sangatlah kontras. Kata Wallace-Murphy, bagi mayoritas masyarakat di dunia Kristen Eropa, kehidupan adalah singkat, brutal dan barbar, dibandingkan dengan kehidupan yang canggih, terpelajar, dan pemerintahan yang toleran di Spanyol-Islam. Di zaman keemasan peradaban Islam itulah, Barat banyak sekali belajar. Para tokoh agama dan ilmuwan mereka berlomba-lomba mempelajari dan menerjamahkan karya-karya kaum Muslim dan Yahudi yang hidup nyaman dalam perlindungan masyarakat Muslim. Barat dapat menjadi menguasai ilmu pengetahuan modern seperti sekarang ini, karena mereka berhasil mentransfer dan mengembangkan sains dari para ilmuwan Muslim. Mereka tidak langsung mengambil sains itu dari tradisi Yunani. Apapun sifat sains Barat modern saat ini, Wallace-Murphy menekankan perlunya Barat mengakui bahwa mereka mewarisi sains Yunani dan lain-lain, adalah atasjasa para ilmuwan dan penguasa Muslim. Di masa kegelapan Eropa tersebut, orang-orang Barat secara bebas menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab. Seorang penerjemah yang sangat fenomenal bernama Gerard of Cremona. Selama hampir 50 tahun tinggal di Toledo (1140-1187), dia menerjemahkan sekitar 90 buku dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Bukan hanya dalam bidang penerjemahan Barat sangat aktif. Dalam Pendidikan Tinggi, Oxford University yang berdiri tahun 1263 dan Cambridge University tak lama sesudah itu, juga menjiplak model kampus-kampus ternama di Andalusia. Dengan bukti-bukti sejarah tentang kejayaan Islam dan karakter Islam itu sendiri, Wallace-Murphy mengajak koleganya di dunia Barat untuk mengakui jasa-jasa besar Islam terhadap Barat. Lebih dari itu, dia mengimbau, agar Barat mampu melihat Islam dengan lebih jernih dan jangan bernafsu untuk mengintervensi urusan dunia Islam. Termasuk dalam soal toleransi dan penghormatan terhadap budaya dan pemeluk agama lain. Terhadap pertanyaan, aCan the world of Islam solve its own problems?a, apakah dunia Islam mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, Wallace-Murphy menjawab tegas: Itu telah terbukti di masa lalu, dan berkat prinsip-prinsip ajaran Islam yang penuh toleransi terhadap budaya dan agama lain, maka Islam akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan, ditambahkannya, karena keyakinan kaum Muslim yang tidak tergoyahkan dan hasrat besar akan kemerdekaan, maka aSiapa atau apa yang akan mampu menghentikan mereka?a Agama Islam, katanya, telah memberikan inspirasi yang begitu besar di masa lalu, dan mereka akan meraih kejayaan kembali di masa depan di berbagai bidang yang mereka telah memiliki pengalaman hebat di banding yang lain, dalam soal toleransi, kreativitas, dan penghormatan. Lalu, ia menutup bukunya dengan sebuah imbauan kepada masyarakat Barat: aBerikanlah penghormatan kepada kaum Muslim, sebagaimana mereka telah memperlihatkan kepada kita, saat mereka a tanpa syarat a membagi buah kebudayaan mereka kepada kita.a Sebagai Muslim, kita tentu senang dan bangga terhadap pujian-pujian dan kejujuran ilmiah yang diungkapkan oleh orang-orang Barat sendiri, seperti Wallace-Murphy tersebut. Sepenggal sejarah peradaban Islam itu memperlihatkan bagaimana arahmatan lil-alamina memang pernah terwujudkan ketika umat Islam mengikuti dan menerapkan perintah al-Quran untuk belajar dan bekerja keras. Umat Islam menjadi umat yang disegani dan dicontoh oleh peradaban lain. Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari buku Tim Wallace-Murphy itu adalah kesadaran akan hakekat ajaran Islam itu sendiri, yang berhasil diserap dan diaplikasikan oleh kaum Muslim, sehingga menghasilkan sebuah peradaban yang tinggi. Dalam kaitan inilah, kita tidak habis pikir dengan banyaknya cendekiawan yang mengaku intelektual Muslim, tetapi justru bangga dan rajin melantunkan lagu-lagu sekularisme Barat. Kita kadang tidak habis pikir, bagaimana seseorang cendekiawan lebih bangga menerapkan hermeneutika Barat dalam menafsirkan al-Quran ketimbang ilmu tafsir al-Quran itu sendiri. Ada yang begitu bangga menyebut dirinya sebagai Muslim-inklusif atau Muslim-Pluralis ketimbang sebutan Muslim yang bertauhid. Ada yang senyum-senyum saja ketika kaum Muslim dibantai dimana-mana, ketika Islam dan Nabi Muhammad SAW dihina, sambil menyerukan agar umat Islam bersikap dewasa dan tidak emosi. Tetapi, begitu ada kasus yang menimpa umat beragama lain, dia berdiri paling depan, berteriak paling lantang, menyatakan, bahwa umat Islam memang biadab! Dengan cara seperti itu, dia lalu mendapat julukan aMuslim progresif dan tolerana. Kita diperintahkan menegakkan keadilan, baik kepada kaum Muslim maupun non-Muslim. Karena itulah, seperti digambarkan Wallace-Murphy, secara umum, kaum Muslim sepanjang sejarah, dikenal sebagai umat yang adil dan ummatan wasatha. Wallahu aalam. ( Jakarta , 1 Rabiulakhir 1429 H/8 April 2008)
Blogs
Main