click

Date: 12/26/2008

membangunkekaguman

Membangun Kekaguman Oleh Administrator Kamis, 25 September 2008 22:42 Kegagalan memahami tujuan penciptaan manusia yang hanya untuk beribadah kepada Allah saja, akan membawa kita kepada berbagai keadaan yang membingungkan. Sebab kunci memahami hakikat kehidupan sekaligus tabir pembuka informasi kegaiban telah kita hilangkan. Ibarat garam, kita telah hilangkan rasa asinnya. Lalu, apakah ia akan tetap kita sebut dengan garam? Pemahaman inilah yang akan merangkai makna nubuwat kerasulan, kandungan kitab-kitab suci tentang iman dan kekafiran, halal dan haram, juga pertentangan kebenaran dan kebatilan. Ia juga kompas yang menunjukkan jalan agar kita tidak tersesat dan hilang arah, cahaya terang yang mengusir kegelapan, atau keyakinan yang mengenyahkan keraguan. Hingga kehilangannya adalah bencana akidah yang luar biasa. Ia juga adalah pondasi untuk membangun semua keyakinan dan cara pandang. Termasuk tentang keberhasilan dan kegagalan, keberuntungan dan kerugian, serta kekaguman dan kehinaan. Ia meletakkan mizan, timbangan nilai yang baku dan abadi, hingga Allah yang memutuskannya berganti. Kita percaya bahwa hamba yang beriman bertakwa tidaklah serupa dengan manusia kafir yang fajir. Yang beramal shalih bukanlah mereka yang penuh dosa. Mereka berbeda sebab lahir dari rahim iman yang berlainan. Mereka tidak sama, dan tidak akan pernah sama meski kadang tampak mirip satu sama lain. Namun terkadang, kita hilang kontrol dan kesadaran. Terbuai arus materialisme dan godaan dunia yang melenakan. Hingga makhluk-makhluk terkutuk di sisi Allah pun kita jadikan panutan. Mata kita berbinar melihat perolehan duniawi mereka. Seakan-akan kita ingin memasrahkan diri asal mereka mengajak. Karena kita ingin menjadi seperti mereka. Perkataan mereka kita jadikan rujukan, pandangan mereka kita jadikan panduan, serta gaya hidup mereka kita turutkan. Bahkan, seperti sabda Rasulullah, ketika mereka membawa kita ke dalam lubang biawak yang sempit, berliku, dan basah! Memangnya, siapa mereka hingga mengalahkan arahan ayat-ayat al-Qur'an dan sabda baginda Nabi SAW? Meski sebenarnya bukan mereka yang salah. Kitalah yang salah karena melupakan teropong iman. Kita kalah sebab meninggalkan dimensi akhirat. Hingga perolehan duniawi tampak sebagai satu-satunya pertimbangan. Kita telah keliru membangun kekaguman! Karena bukan hanya hamba yang bertakwa yang bisa menaklukkan dunia, hingga penampakan mereka pun seringkali tampak mirip. Dan kita bingung mengidentifikasi, bimbang mengklasifikasi, dan ragu mengambil keputusan. Sebab orang-orang kafir dan pelaku maksiat itu terlihat begitu gagahnya. Mereka sangat hebat dan layak mendapat ucapan selamat. Kita lupa bahwa Islam memiliki nilainya sendiri tentang siapa yang mulia dan hina di sisi Allah. Dan hamba yang bertakwa itupun tidak selalu identik dengan mereka yang marjinal dan terpinggirkan; tidak berpendidikan, penuh penderitaan, ketinggalan jaman, dan lusuh dalam penampilan. Meski yang demikian pun, sejatinya, bukanlah sebuah kehinaan dan kesalahan jika mereka beriman bertakwa. Sebab kekayaan, pendidikan, kemewahan, dan penampilan, bukanlah standar manusia yang sebenarnya!


Blogs
Main